Hubungan yang tidak cocok selalu diibaratkan seperti minyak dan air, kan? Karena meskipun dicampur, minyak dan air tak mungkin menyatu. Jika minyak dituangkan ke dalam segelas air, minyak akan mengapung di atas air. Air dan minyak tak dapat menyatu karena kepadatannya berbeda. Kepadatan adalah perbandingan massa pada setiap benda dengan standar volume tetap. Kepadatan air lebih besar daripada minyak.

Jadi, jika keduanya dimasukkan ke wadah yang sama, air yang kepadatannya lebih besar akan turun, sedangkan minyak yang kepadatannya kecil akan mengapung. Keduanya tidak bisa menyatu. Namun jika dituangkan ke dalam minyak mendidih, air akan bercipratan ke mana-mana. Dan dalam sekejap cipratan air itu akan berubah jadi uap.

Waktu memasak, suhu minyak mencapai 160-200 derajat, sedangkan minyak mendidih pada suhu 100 derajat. Mendidih adalah proses perubahan cairan menjadi uap. Jika air dimasukkan ke minyak bersuhu 200 derajat, maka seketika akan berubah jadi uap. Saat itu volume air membesar sehingga menimbulkan letupan kecil yang muncrat ke mana-mana.

 
 
Picture
Air memiliki kemampuan untuk membasuh, menenangkan dan memelihara. Di sisi lain, air juga memiliki kekuatan brutal seperti saat tsunami.
Orang bijaksana China, Lao Tzu, sempat mengatakan, tak ada yang lebih lunak dan lebih lemah dari air namun tak ada yang lebih baik untuk menyerang benda keras dibanding air. Air mendominasi dua pertiga tubuh manusia dan menyelimuti tiga perempat Bumi yang membuatnya sangat misterius.
Di sisi lain, air akan sangat mengejutkan Anda, bahkan mampu mementahkan pemahaman ilmiah.


 
 
Picture
Belum lama berselang, tepatnya tanggal 5 Juni yang lalu, suatu berita besar iptek muncul dari sebuah konperensi fisika “Neutrino 98″ yang berlangsung di Jepang. Neutrino, salah satu partikel dasar yang jauh lebih kecil daripada elektron, ternyata memiliki massa, demikian laporan dari suatu tim internasional yang tergabung dalam eksperimen Super-Kamiokande. Tim ahli-ahli fisika yang terdiri dari kurang lebih 120 orang dari berbagai negara termasuk AS, Jepang, Jerman, dan Polandia tersebut melakukan penelitian terhadap data-data yang dikumpulkan selama setahun oleh sebuah laboratorium penelitian neutrino bawah tanah di Jepang.